Ujian Tengah Semester SIM (Soal 2)

Soal

Menurut Anthony dan Morton keputusan manajemen dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu: keputusan terprogram (terstruktur), keputusan semi terprogram (semi terstruktur), dan keputusan tidak terprogram (tidak terstruktur). Berikan gambar (dalam bentuk matrik) dan uraikan sejelasnya jika diterapkan dalam bidang pendidikan?

Jawaban


Keputusan Manajemen menurut Anthony dan Morton dibagi dalam 3 tipe :
  1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yg berulang-ulang dan rutin, sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manjemen tingkat bawah. Contoh; keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang dll.
  2. Keputusan semi terprogram / semi terstruktur : keputusan yang sebagian dapat diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tidak terstruktur. Keputusan ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan-perhitungan serta analisis yang terperinci. Contoh; Keputusan membeli sistem komputer yang lebih canggih, keputusan alokasi dana promosi dll. 
  3. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yang tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah untuk didapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yang sangat penting di dalam pengambilan keputusan tidak terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain adalah contoh keputusan tidak terstruktur yang jarang terjadi.

Bila kita terapkan dalam pendidikan maka dapat kita temui keputusan-keputusan yang diambil memang terdiri atas keputusan terprogram, semi terprogram dan tidak terprogram. Keputusan terprogram biasanya berupa penentuan kalender pendidikan yang terdiri atas jadwal pembelajaran, jadwal evaluasi, jadwal liburan dll. Dalam keputusan semi terprogram biasanya keputusan tentang penerimaan siswa pindahan dan mutasi siswa, belanja barang yang tidak direncanakan sebelumnya tetapi mendesak dll. Sedangkan keputusan tidak terprogram diantaranya rekruitmen tenaga pengajar, negoisasi dan lobying. Pada pengambilan keputusan tidak terprogram, kepala sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam pengambilan keputusan karena kepala sekolah harus memahami kurikulum, bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian visi dan misi sekolah, mengelola sumber daya, relevan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi serta memiliki jaringan yang luas dengan stakeholder yang ada. 
Pada prinsipnya manajemen sekolah itu sama dengan manajemen yang diterapkan di perusahaan. Perbedaannya terdapat pada produk akhir yang dihasilkan. Yang dihasilkan oleh manajemen sekolah adalah manusia yang berubah. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti, dari yang tidak berpengalaman menjadi berpengalaman, dari yang tak bisa menjadi bisa, sehingga menghasilkan SDM yang bermutu. Sedangkan sasaran manajemen perusahaan itu pada kualitas produksi benda-benda mati.
Jadi, manajemen sekolah berandil kuat pada pembentukan kualitas manusia yang merupakan generasi penerus bangsa. Atensi masyarakat yang telah teralienasikan akibat propaganda wacana teknologi dalam pembelajaran harus segera diobati dengan mengedepankan wacana kualitas kepala sekolah. Realitas sekolah itu dimanage oleh kepala sekolah bukan pada kata-kata para marketer yang mengejar target siswa demi perolehan bonus.
Para ahli melihat bahwa salah satu input strategis bagi langkah maju perusahaan adalah membentuk konsep yang berbasiskan sumber daya manusia demi suatu profitabilitas yang tinggi. Tak ada salahnya konsep ini dipakai di sekolah. Secara sederhana dapat diterjemahkan bahwa keberhasilan sekolah tergantung pada teknik mengelola manusia-manusia yang ada di sekolah untuk suatu keberhasilan yang tak terukur nilainya yaitu pemanusiaan manusia dalam diri peserta didik dan penghargaan bagi rekan-rekan pendidik sebagai insan yang kreatif dan peduli akan nasib generasi penerus bangsa.
Dan ini sebenarnya hakiki dari suatu pendidikan, dan roh pendidikan itu harus selalu melekat dan lestari bagi setiap insan pendidik. Keberhasilan suatu sekolah sangat ditentukan oleh visioner kepala sekolah, kepala sekolah mesti memiliki visioner yang jelas, terencana, terprogram dan terkendali. Ini akan terlihat dari sejauhmana kepala sekolah mampu membangun kebersamaan, memiki daya saing dan menghasilkan lulusan bermutu, sehingga sekolah yang dipimpinnya akan menjadi sebuah lembaga pendidikan yang benar-benar memberikan kontribusi terhadap mutu pendidikan sebagaimana yang diharapkan.